Terkadang
cinta terusik oleh emosi sesaat, itulah yang tergambar di wajahku pagi ini,
berjuta keindahan fanorama pun takkan bisa menghibur hatiku yang penuh perasaan
sedih. Awalnya obrolan kami via telpon ringan – ringan saja, tiba kemudian
menjurus ke masalah adikku yang batal menikah yang membuat ayah sakit tidak
bisa menerima kenyataan. Maksud hati ingin menghibur keduanya justru jadi
bumerang untukku sendiri, terjadilah cekcok mulut antara aku dan ibu. Dimulai
dari rasa kesalku karena Ayah terus membahas lelaki itu, namun tidak dipungkiri
Ayah seperti itu karena merasa diremehkan karena hubungan anaknya diputuskan
sepihak tanpa ada pembicaraan sebelumnya. Sebagai anak pertama, aku berusaha
menenangkan tapi mungkin caraku menyampaikan yang salah. Ayah sendiri yang
memang penyabar sudah terdengar bisa menerima keadaan setelah sempat berbicara
dengan Ayah lelaki itu via telpon, tapi kemudian terdengar suara ibu dibalik
telpon terdengar memaki, beliau marah karena aku justru menyalahkan adikku krn
dulu ngotot ingin bekerja sementara lelaki itu sudah ingin berumah tangga.
Aku
dimaki-dimaki, dikatai- katai tidak peduli dengan keadaan keluarga, katanya aku
hanya peduli diri sendiri dan parahnya lagi ibu sampai bilang akan
mengembalikan semua hasil keringatku yang aku berikan, tidak usah mencampuri
urusan keluarga lagi dan berbagai tuduhan lainnya. Padahal aku cuma ingin
mereka bangkit, cuma ingin mereka sadar bahwa dari kejadian ini mestinya kita
belajar bahwa tidak semua hal sesuai dengan keinginan kita, bahwa kita ambil saja hikmah dibalik kejadian
ini bahwa jika ada sebuah niat baik jangan dilewatkan sebab takut akan
ketiadaan rezeki karena semua sudah ada yang mengatur, mungkin ada yang
direncanakan Tuhan yang lebih indah untuk keluarga kita. Aku hanya tidak ingin
Ayah kambuh lagi penyakitnya, Ibu juga kepikiran terus, adik-adikku yang lain
tidak konsen belajar. Jangan karena masalah 1 anak, lantas yang lain pun
menanggungnya.
Berkali-kali
aku meminta maaf dan mengatakan ibu salah pengertian, berkali-kali pula ibu
membentakku. Suaraku yang memang sudah parau akibat radang tenggorokan semakin
parah hanya isak tangis dengan suara terbata-bata aku terus berucap maaf
dibalik gagang telepon “maaf bu kalau kata-kataku menyinggung perasaan ibu tapi
sungguh niatku tidak seperti itu!!!” namun tidak ada lagi suara ibu disana yang
terdengar hanyalah nada tut..tut... berulang ulang.
Pagi
ini tgl 10 Oktober seharusnya menjadi hari bahagiaku, deretan ucapan selamat
ulang tahun di akun facebook belum lagi telpon dan sms tak satupun membuat
perasaanku damai. Aku terus teringat kata-kata ibu kemarin. Aku mulai berpikir
apa benar aku ini anak kandungnya! mungkinkah masih ada cinta dihati ibu
untukku. Andai aku tau kejadiannya akan seperti ini, aku akan memilih diam.
Ketukan
pintu menyadarkanku dari lamunan panjang. Dengan rasa malas kubuka pintu
kamarku, mataku menangkap sebuah benda di ujung lantai depan kamarku, terlihat
sebuah kotak kecil berisikan cincin dan ucapan selamat ulang tahun. Belum
selesai rasa penasaranku, aku mencium aroma makanan favoritku dari arah dapur.
“Mama
!!!”
“Kejutan!!!!
bagaimana kado mama kamu suka kan?” masih dengan rasa tidak percaya ibu
memelukku dan berkata lirih “maafkan ibu sayang, ibu tidak benar-benar
bermaksud memakimu tempo hari, ibu hanya ingin memberikan kejutan kecil, semoga
cepat sembuh sayang.
Aku
benar-benar tidak percaya, ibu hanya mengerjaiku. Puluhan tahun kurindukan
moment ini, merindukan pelukan ibu, mendapatkan kasih sayangnya di hari
spesialku, bela-belain datang dari Solo ke Bandung hanya untuk memberi ucapan selamat
secara langsung.
Ternyata selama ini aku
yang salah menilai keluargaku, terutama menilai ibu. Justru akulah yang menarik
diri dari mereka. Dengan disertai tangis, kubalas pelukan ibu dan berkata “
Ma..maafkan aku sungguh selama ini aku salah menilaimu kasih sayangmu ternyata
selalu ada buatku hanya aku saja yg tidak melihatnya, ini benar-benar kado
terindah untukku, I LOVE U MOM”.