Selasa, 22 Oktober 2013

KADO TERINDAH DARI IBU


Terkadang cinta terusik oleh emosi sesaat, itulah yang tergambar di wajahku pagi ini, berjuta keindahan fanorama pun takkan bisa menghibur hatiku yang penuh perasaan sedih. Awalnya obrolan kami via telpon ringan – ringan saja, tiba kemudian menjurus ke masalah adikku yang batal menikah yang membuat ayah sakit tidak bisa menerima kenyataan. Maksud hati ingin menghibur keduanya justru jadi bumerang untukku sendiri, terjadilah cekcok mulut antara aku dan ibu. Dimulai dari rasa kesalku karena Ayah terus membahas lelaki itu, namun tidak dipungkiri Ayah seperti itu karena merasa diremehkan karena hubungan anaknya diputuskan sepihak tanpa ada pembicaraan sebelumnya. Sebagai anak pertama, aku berusaha menenangkan tapi mungkin caraku menyampaikan yang salah. Ayah sendiri yang memang penyabar sudah terdengar bisa menerima keadaan setelah sempat berbicara dengan Ayah lelaki itu via telpon, tapi kemudian terdengar suara ibu dibalik telpon terdengar memaki, beliau marah karena aku justru menyalahkan adikku krn dulu ngotot ingin bekerja sementara lelaki itu sudah ingin berumah tangga.
Aku dimaki-dimaki, dikatai- katai tidak peduli dengan keadaan keluarga, katanya aku hanya peduli diri sendiri dan parahnya lagi ibu sampai bilang akan mengembalikan semua hasil keringatku yang aku berikan, tidak usah mencampuri urusan keluarga lagi dan berbagai tuduhan lainnya. Padahal aku cuma ingin mereka bangkit, cuma ingin mereka sadar bahwa dari kejadian ini mestinya kita belajar bahwa tidak semua hal sesuai dengan keinginan kita,  bahwa kita ambil saja hikmah dibalik kejadian ini bahwa jika ada sebuah niat baik jangan dilewatkan sebab takut akan ketiadaan rezeki karena semua sudah ada yang mengatur, mungkin ada yang direncanakan Tuhan yang lebih indah untuk keluarga kita. Aku hanya tidak ingin Ayah kambuh lagi penyakitnya, Ibu juga kepikiran terus, adik-adikku yang lain tidak konsen belajar. Jangan karena masalah 1 anak, lantas yang lain pun menanggungnya.
Berkali-kali aku meminta maaf dan mengatakan ibu salah pengertian, berkali-kali pula ibu membentakku. Suaraku yang memang sudah parau akibat radang tenggorokan semakin parah hanya isak tangis dengan suara terbata-bata aku terus berucap maaf dibalik gagang telepon “maaf bu kalau kata-kataku menyinggung perasaan ibu tapi sungguh niatku tidak seperti itu!!!” namun tidak ada lagi suara ibu disana yang terdengar hanyalah nada tut..tut... berulang ulang.
Pagi ini tgl 10 Oktober seharusnya menjadi hari bahagiaku, deretan ucapan selamat ulang tahun di akun facebook belum lagi telpon dan sms tak satupun membuat perasaanku damai. Aku terus teringat kata-kata ibu kemarin. Aku mulai berpikir apa benar aku ini anak kandungnya! mungkinkah masih ada cinta dihati ibu untukku. Andai aku tau kejadiannya akan seperti ini, aku akan memilih diam.
Ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan panjang. Dengan rasa malas kubuka pintu kamarku, mataku menangkap sebuah benda di ujung lantai depan kamarku, terlihat sebuah kotak kecil berisikan cincin dan ucapan selamat ulang tahun. Belum selesai rasa penasaranku, aku mencium aroma makanan favoritku dari arah dapur.
“Mama !!!”
“Kejutan!!!! bagaimana kado mama kamu suka kan?” masih dengan rasa tidak percaya ibu memelukku dan berkata lirih “maafkan ibu sayang, ibu tidak benar-benar bermaksud memakimu tempo hari, ibu hanya ingin memberikan kejutan kecil, semoga cepat sembuh sayang.
Aku benar-benar tidak percaya, ibu hanya mengerjaiku. Puluhan tahun kurindukan moment ini, merindukan pelukan ibu, mendapatkan kasih sayangnya di hari spesialku, bela-belain datang dari Solo ke Bandung hanya untuk memberi ucapan selamat secara langsung.
Ternyata selama ini aku yang salah menilai keluargaku, terutama menilai ibu. Justru akulah yang menarik diri dari mereka. Dengan disertai tangis, kubalas pelukan ibu dan berkata “ Ma..maafkan aku sungguh selama ini aku salah menilaimu kasih sayangmu ternyata selalu ada buatku hanya aku saja yg tidak melihatnya, ini benar-benar kado terindah untukku, I LOVE U MOM”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar